Berita

Bertahan di Tengah Modernisasi: Kue Tradisional Pasuruan Sukses Tembus Pasar Jawa hingga Sulawesi

Pasuruan, Swaralin.id – Di tengah riuhnya persaingan industri kuliner yang kian modern dengan kemasan kekinian dan inovasi rasa yang terus diperbarui, kue tradisional Lebaran tetap bertahan sebagai primadona di hati masyarakat.

Aroma mentega yang perlahan menguar dari oven, renyahnya kue semprit yang rapuh saat digigit, hingga legitnya sagon yang melekat di lidah, menghadirkan nostalgia yang tak tergantikan. Di Desa Kedung Bendo, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan. Senen siang. (23/2/2026).

Warisan rasa itu bukan sekadar kenangan, melainkan juga sumber penghidupan yang terus tumbuh. Seorang pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), Tutik Dwi Suprapti, membuktikan bahwa bisnis kue jadul Lebaran masih menjanjikan di tengah gempuran produk modern.

Usaha rumahan yang ia rintis sejak 25 tahun lalu itu kini berkembang pesat, terutama menjelang musim Lebaran. Berbekal modal awal sekitar Rp 300 ribu, Tutik memulai usahanya secara sederhana di dapur rumah. Kini, setiap menjelang hari raya Idulfitri, dapur produksinya tak pernah sepi.

Puluhan kilogram adonan diolah setiap hari untuk memenuhi pesanan pelanggan yang datang dari berbagai daerah. Beragam kue kering tradisional diproduksi, mulai dari semprit, ting-ting kacang, sagon hingga aneka kue klasik lainnya.

Produk tersebut dijual dengan harga grosir mulai Rp 44 ribu per kilogram dan telah dipasarkan ke berbagai wilayah di Pulau Jawa, Bali hingga Sulawesi.

“Usaha ini sudah turun-temurun. Kami menjaga resepnya supaya rasanya tetap sama seperti dulu, karena pelanggan mencari cita rasa khas itu,” kata Tutik Dwi Suprapti, pengrajin kue Lebaran.

Momentum Lebaran menjadi puncak penjualan bagi usaha tersebut. Dalam satu musim, omzet yang diperoleh mampu menembus hingga Rp 90 juta. Angka itu menunjukkan bahwa kue tradisional masih memiliki daya tarik ekonomi yang kuat di tengah tren produk modern.

Tak hanya memberikan keuntungan bagi pelaku usaha, kegiatan produksi kue tradisional ini juga membuka lapangan kerja bagi warga sekitar. Sejumlah pekerja dilibatkan dalam proses produksi hingga pengemasan, sehingga ikut menggerakkan perputaran ekonomi lokal desa.

Kisah Tutik menjadi potret bahwa menjaga warisan rasa bukan hanya soal melestarikan tradisi, tetapi juga menghadirkan peluang ekonomi yang nyata menghubungkan nostalgia dengan kebutuhan pasar masa kini dalam setiap toples kue Lebaran (kin/ach) 

Admin

Recent Posts

Polemik Desa Gambiran Mencuat, Polisi Tunggu Laporan Warga: Dugaan Narkotika hingga Tata Kelola Desa Jadi Sorotan

Pasuruan, Swaralin.id - Polemik penyelenggaraan pemerintahan Desa Gambiran, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, kian menjadi perhatian.…

17 jam ago

Pasuruan, Swaralin.id - Kebakaran hebat menghanguskan sebuah rumah yang sekaligus dijadikan tempat usaha servis elektronik…

18 jam ago

Kapolres Pasuruan Kota Doa Bersama Komunitas Ojol untuk Almarhum Affan

  Polresta Pasuruan | Swaralin.id – Kapolres Pasuruan Kota AKBP Arief Ardiansyah Prasetya, S.I.K., S.H.,…

3 hari ago

Kapolres Pasuruan Kota Pimpin Sertijab Kapolsek Purworejo, Wujudkan Penyegaran dan Penguatan Organisasi

Polresta Pasuruan | Swaralin.id – Kapolres Pasuruan Kota AKBP Arief Ardiansyah Prasetya, S.I.K., S.H., M.H.…

3 hari ago

RSUD Bangil Naik Kelas: Digitalisasi, CAT, dan Dana Cukai Didorong Jadi Mesin Transformasi Layanan

PASURUAN, SWARALIN.ID - Pemerintah Kabupaten Pasuruan mendorong RSUD Bangil naik kelas dalam kualitas pelayanan kesehatan.…

1 minggu ago

Kalapas Pasuruan Berganti, Fahmi Rezatya Tekankan Kolaborasi dan Percepatan Relokasi

Pasuruan, Swaralin.id  –  Suasana haru dan penuh semangat menyelimuti Aula Lapas Kelas IIB Pasuruan dalam…

1 minggu ago