Nasional

Penghormatan terakhir Untuk Try Sutrisno : Di balik Jeruji besi Rutan Kelas IIB BangiL Satukan Saf Doa

Pasuruan, Swaralin.id – Aula blok hunian Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Bangil, Kabupaten Pasuruan, mendadak hening. Puluhan warga binaan dan jajaran pegawai pemasyarakatan berdiri rapat dalam saf, menunaikan sholat ghaib untuk mendoakan wafatnya Wakil Presiden ke-6 RI, Try Sutrisno. Selasa, (3/3/2026).

Penghormatan itu digelar sebagai tindak lanjut instruksi Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur. Kabar wafatnya purnawirawan jenderal TNI yang pernah mendampingi Presiden Soeharto pada periode 1993–1998 itu memantik doa serentak di berbagai institusi, termasuk lembaga pemasyarakatan.

Kegiatan diawali dengan sholat Dhuhur berjamaah yang diikuti seluruh staf administrasi Rutan Bangil beragama Islam. Selepas itu, jamaah bergeser ke aula blok hunian. Di ruang itulah, warga binaan turut ambil bagian dalam sholat ghaib yang berlangsung khidmat.

Kepala Rutan Bangil, Yanuar Rinaldi, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk solidaritas dan penghormatan institusi terhadap tokoh nasional yang dinilai memiliki kontribusi besar bagi negara.

“Kami melaksanakan sholat ghaib sebagai bentuk doa dan penghormatan atas jasa almarhum kepada bangsa dan negara. Semoga ini juga menjadi pengingat bagi kami untuk terus mengabdi dengan integritas dan tanggung jawab,” kata Yanuar.

Untuk memimpin doa sekaligus menyampaikan tausiyah, pihak rutan menghadirkan Ustadz Fauzi dari Pondok Pesantren Darut Tauhid Bangil. Dalam pesannya, ia mengajak jamaah mendoakan almarhum agar memperoleh tempat terbaik di sisi Allah SWT, serta meneladani semangat pengabdian yang ditinggalkannya.

Secara terpisah, Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Jawa Timur menegaskan bahwa seluruh satuan kerja pemasyarakatan di wilayahnya diimbau menggelar doa bersama sebagai bentuk penghormatan terakhir.

Sholat ghaib di Rutan Bangil bukan sekadar seremoni. Di balik tembok tinggi lembaga pemasyarakatan, momentum itu dimaknai sebagai pembinaan spiritual ruang sunyi.

Hal ini juga untuk refleksi tentang pengabdian, tanggung jawab, dan jejak panjang seorang tokoh militer yang pernah berada di lingkar kekuasaan nasional. Di dalam rutan, doa melangit. Di luar, bangsa mengenang satu lagi bab sejarah yang telah ditutup. (Red)

Admin

Recent Posts

Peringati Hari Kartini, Perempuan Pasuruan Bergerak Lewat Aksi Kesehatan dan Donor Darah

Pasuruan, Swaralin.id - Memperingati Hari Kartini 21 April 2026, Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (PERWOSI)…

48 menit ago

Peduli Lingkungan, Bhayangkari Polres Pasuruan Kota Tanam Pohon Peringati Hari Kemala Bhayangkari ke-46

Pasuruan Kota, Swaralin.id – Dalam rangka memperingati Hari Kemala Bhayangkari ke-46, Bhayangkari Cabang Polres Pasuruan…

4 jam ago

Moratorium Permanen di Lereng Arjuno–Welirang: DPRD Pasuruan Pilih Menjaga Hutan Ketimbang Real Estate

Pasuruan, Swaralin.id - Rencana pembangunan kawasan real estate di lereng Gunung Arjuno–Welirang resmi memasuki titik…

1 hari ago

Kejaksaan Kantongi Bukti Baru, Dugaan Korupsi Banpol PDIP Pasuruan Kantongi Bukti Tambahan

Pasuruan, Swaralin.id - Kasus dugaan korupsi dana bantuan  politik (banpol) di tubuh PDIP Kabupaten Pasuruan…

2 hari ago

Satgas Pangan Pasuruan Dropping 9,6 Ton Minyakita ke 7 Ritel Pasar, Tekan Harga yang Sempat Tembus Rp19.5000

Pasuruan, Swaralin.id - Satgas Pangan Kabupaten Pasuruan melakukan langkah cepat untuk menstabilkan harga minyak goreng…

6 hari ago

Tak Sekadar Bisnis. TFJ Pasuruan Rawat Kehidupan Lewat Donor Darah Rutin

Pasuruan, Swaralin.id - Komitmen sosial tak selalu hadir dalam sorotan besar. Di tengah aktivitas industri…

1 minggu ago