Pasuruan, Swaralin.id –  Pagi itu, suasan berbeda di  halaman Mapolres Pasuruan berubah wajah. Bukan derap sepatu petugas atau suara sirene yang mendominasi, melainkan gelak tawa anak-anak yang pecah beriringan dengan cipratan air.

Program Polsanak (Polisi Sahabat Anak) kembali digelar oleh Satlantas Polres Pasuruan, menghadirkan pendekatan edukatif yang hangat, menyenangkan, sekaligus membekas. Kamis. (9/4/2026).

Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 11.00 WIB ini diikuti oleh jajaran internal kepolisian, mulai dari Ps. Kanit Kamsel, anggota Kamsel, hingga personel Samapta. Namun, pusat perhatian sepenuhnya tertuju pada para siswa-siswi yang menjadi peserta utama anak-anak usia dini yang diajak mengenal dunia lalu lintas dan tugas kepolisian dengan cara yang jauh dari kesan kaku.

Anak-anak diperkenalkan pada rambu-rambu lalu lintas melalui metode interaktif. Edukasi tidak berhenti di teori; ia menjelma menjadi permainan, nyanyian, hingga pengalaman langsung. Mereka diajak berkeliling markas komando (mako), menyentuh realitas tugas Polri dari dekat.

Selain jajaran Satlantas, kegiatan ini turut melibatkan unit Samapta, termasuk pengenalan K9 atau yang sering di sebut (anjing pelacak). yang selama ini identik dengan tugas-tugas serius kepolisian. Sosok “Balo”, anjing pelacak Polres Pasuruan, menjadi magnet tersendiri. Rasa takut bercampur penasaran tampak jelas di wajah anak-anak saat mereka bergantian melihatnya dari dekat.

Seluruh rangkaian berlangsung di Mapolres Pasuruan, pada pagi hingga menjelang siang hari yang cerah, memberikan ruang terbuka bagi anak-anak untuk belajar sekaligus bermain.

Menurut Kasat Lantas Polres Pasuruan, AKP Derie Fradesca, pendekatan humanis menjadi kunci. Edukasi keselamatan berlalu lintas sejak dini dinilai efektif membentuk kebiasaan yang akan terbawa hingga dewasa.

“Ada interaksi yang terbangun. Anak-anak belajar hal mendasar seperti memakai helm, sabuk pengaman, hingga duduk aman saat dibonceng,” kata Derie

Lebih lanjut. Semua dirancang mengalir. Dari pengenalan rambu, bernyanyi bersama, hingga sesi yang paling ditunggu. Yakni, simulasi hujan menggunakan mobil water cannon.

“Awalnya hanya direncanakan 15 menit, namun suasana berubah menjadi pesta kecil yang tak terduga. Anak-anak, mengenakan jas hujan, justru larut dalam kegembiraan berlari, bermain air, bahkan “berenang” di genangan. Petugas pun memperpanjang sesi itu hingga 45 menit.,” ucapnya

Lebih jauh, Di tengah riuh itu, hadir pula “Si BONEL”, boneka lalu lintas yang menjadi jembatan komunikasi antara polisi dan anak-anak. Lewat karakter ini, pesan keselamatan disampaikan dengan cara yang lembut namun efektif menyelinap tanpa terasa.

“Kegiatan ini tidak sekadar meninggalkan kenangan, tetapi juga pemahaman. Anak-anak mulai mengenal pentingnya rambu lalu lintas, memahami peran polisi, hingga mendapatkan pengalaman langsung yang membentuk persepsi positif terhadap institusi kepolisian.,” tutupnyab

Di akhir acara, foto bersama menjadi penutup yang manis. Namun yang lebih penting, hari itu meninggalkan jejak yang tak kasat mata: benih kesadaran, rasa percaya, dan kenangan bahagia antara anak-anak dan polisi. (kin/ach)