Daerah

Di Balik Label Daerah Santri, Kabupaten Pasuruan Tercatat Lima Besar Kasus HIV se-Jawa Timur

Pasuruan, Swaralin.id  – Kabupaten Pasuruan menutup tahun 2025 dengan catatan kelam di sektor kesehatan sosial. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menempatkan wilayah yang lekat dengan identitas Daerah Santri ini pada peringkat kelima tertinggi kasus HIV/AIDS se-Jawa Timur, dengan 178 kasus baru terdeteksi sepanjang tahun.

Temuan tersebut menuai sorotan tajam dari Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Pasuruan Raya (BEMPAS Raya). Mereka menilai tingginya angka HIV bukan sekadar persoalan medis, melainkan indikasi rapuhnya sistem edukasi kesehatan, lemahnya kontrol sosial, serta kuatnya stigma yang membuat masyarakat enggan melakukan pemeriksaan dini.

“Angka 178 kasus ini sangat mungkin hanya puncak gunung es. Banyak warga takut memeriksakan diri karena stigma. Di daerah santri, kesehatan reproduksi masih dianggap tabu, sementara pergaulan bebas semakin masif,” ujar Presiden Mahasiswa Akbid Hasna, yang tergabung dalam BEMPAS Raya, Rabu, (31/11/ 2025).

Terpisah. Koordinator BEMPAS Raya, M. Ubaidillah Abdi, menyebut posisi lima besar se-Jawa Timur sebagai tamparan keras bagi wajah sosial Pasuruan. Menurut dia, identitas religius tidak otomatis menjadi benteng bila tidak diiringi kebijakan edukatif yang jujur dan menyentuh akar masalah.

“Ini kado pahit penutup tahun. Kita tak bisa terus bersembunyi di balik label daerah santri, sementara perilaku berisiko meningkat dan ruang edukasi nyaris absen di tingkat akar rumput,” kata Ubaidillah.

BEMPAS Raya mendesak Pemerintah Kabupaten Pasuruan untuk segera berbenah dan keluar dari pola kebijakan yang dinilai seremonial. Mahasiswa meminta langkah konkret dan terukur, di antaranya :

Strategi langsung ke kelompok rentan, berbasis data dan wilayah.
Penguatan anggaran edukasi kesehatan, hingga ke pelosok desa.
Layanan kesehatan inklusif dan bebas stigma, agar warga berani memeriksakan diri tanpa rasa takut.

Menutup pernyataannya, BEMPAS Raya mengajak seluruh elemen Masyarakat, tokoh agama, akademisi, tenaga kesehatan, dan masyarakat sipil untuk bergandengan tangan menjadikan temuan ini sebagai titik balik.

“Ini panggilan bersama. Berhenti saling menyalahkan, mulai bergerak kolektif. Pemkab tidak bisa berjalan sendiri, masyarakat pun tak boleh abai. Taruhannya adalah martabat daerah santri dan keselamatan generasi masa depan Pasuruan,” ujar Ubaidillah.

Dengan data resmi di tangan dan tekanan publik yang menguat, akhir 2025 menjadi momen krusial bagi Pasuruan: berbenah serius atau terus mencatatkan ironi di tengah identitas religius yang dibanggakan. (kin/Ach)

Admin

Recent Posts

Kenal Sepekan dari Aplikasi Kencan, Pemuda 23 Tahun di Pasuruan Diduga Bawa Kabur Motor Pria yang Baru Ditemuinya

Pasuruan, Swaralin.id - Perkenalan singkat melalui aplikasi kencan berujung di kantor polisi. Seorang pemuda berusia…

8 jam ago

Menjahit Harmoni dari Pinggir Kawasan Industri: PT Tirta Fresindo Jaya Pasuruan 3 Berkurban untuk Warga

Pasuruan, Swaralin.id -  Di tengah momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah yang sarat makna…

2 hari ago

Kas Pasar Randupitu Belum Tuntas. Sekdes Ungkap Janji Eks Kepala Pasar yang Tak Kunjung Dipenuhi buka suara “begini kelarifikasinya”

Pasuruan, Swaralin.id - Polemik dugaan tidak utuhnya penyerahan dana kas Pasar Desa Randupitu, Kecamatan Gempol,…

3 hari ago

Pergantian Pengurus Pasar Desa Randupitu Menyisakan Luka. Selisih Dana Rp6,8 Juta Jadi Sorotan

Pasuruan, Swaralin.id -  Polemik pengelolaan keuangan Pasar Desa Randupitu, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, menyeruak ke…

5 hari ago

Patroli URC Satreskrim Polres Pasuruan Kota Gagalkan Dugaan Aksi Pemerasan di Wilayah Panggungrejo

Pasuruan, Swaralin.id – Gerak cepat Unit Reaksi Cepat (URC) Satreskrim Polres Pasuruan Kota kembali menunjukkan…

1 minggu ago

Tak Sekadar Olahraga, KORMI Pasuruan Bangun Peta Kebugaran Masyarakat untuk Masa Depan

Pasuruan, Swaralin.id - Upaya membangun masyarakat yang sehat dan produktif tak lagi berhenti pada kampanye hidup…

2 minggu ago