Kota Pasuruan, Swaralin.id –  Euforia kemenangan yang semestinya menjadi penawar lelah setelah bertahun-tahun berlatih, justru berubah menjadi kekecewaan yang getir bagi para atlet Kota Pasuruan.

Di tengah suasana seremoni penghargaan yang digelar di Gedung Gradika, sejumlah atlet peraih medali pada ajang Pekan Olahraga Provinsi Jawa Timur IX 2025 memilih meluapkan protes secara terbuka. Kamis, (26/2/2026).

Mereka menaruh piagam penghargaan di lantai, lalu menginjaknya dan itu sebuah simbol kemarahan atau kemarahan para atlit atas bonus yang dinilai dipangkas drastis dibanding edisi sebelumnya.

Aksi tersebut terekam dalam video dan dengan cepat beredar luas di media sosial. Dalam rekaman itu, tampak para atlet memegang piagam dengan nominal bonus yang tertera mulai dari Rp1,5 juta hingga Rp10 juta.

Wajah-wajah yang seharusnya berseri karena prestasi, berubah tegang. Beberapa atlet tampak emosional, menyuarakan kekecewaan terhadap kebijakan pemerintah daerah.

Peristiwa ini terjadi sesaat setelah penyerahan penghargaan oleh Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo di Gedung Gradika. Kontingen Kota Pasuruan sendiri pada Porprov IX Jatim 2025 mencatatkan 36 medali, terdiri dari 6 emas, 7 perak, dan 23 perunggu capaian yang dianggap membanggakan, sekaligus menjadi bukti kerja keras atlet dan pelatih.

Namun, angka bonus yang diterima tahun ini dinilai tidak sebanding dengan perjuangan tersebut. Pada Porprov VIII Jatim 2023, peraih emas mendapat Rp30 juta, perak Rp20 juta, dan perunggu Rp10 juta. Tahun ini, besaran itu turun menjadi Rp10 juta untuk emas, Rp7,5 juta untuk perak, dan Rp5 juta untuk perunggu.

“Latihan kami bertahun-tahun, bahkan banyak yang pakai biaya sendiri. Tapi saat menang, bonusnya justru turun jauh,” ujar Alam Al Ghozali, atlet cabang beladiri, saat ditemui usai acara.

Disisi lain, Kekecewaan serupa disampaikan oleh Wahyu Kurniawan, asisten pelatih salah satu cabang olahraga. Ia menyebut, penurunan bonus berpotensi memukul motivasi atlet, terlebih bagi mereka yang selama ini berjuang di tengah keterbatasan fasilitas dan pembinaan.

Menurut Wahyu, banyak atlet harus mengeluarkan biaya pribadi untuk latihan, transportasi, hingga perlengkapan. Karena itu, bonus dari pemerintah daerah selama ini menjadi salah satu bentuk apresiasi sekaligus penopang kebutuhan mereka.

Aksi protes dengan menginjak piagam pun dinilai sebagai bentuk ekspresi spontan atas akumulasi kekecewaan. Para atlet berharap pemerintah Kota Pasuruan dapat meninjau kembali kebijakan tersebut dan memberikan perhatian lebih serius terhadap pembinaan olahraga.

“Kalau ingin prestasi naik, ya perhatian ke atlet juga harus naik,” Tegas Wahyu.

Para atlet berharap ke depan semua cabang olahraga berprestasi mendapat dukungan yang layak baik dari sisi fasilitas, pembinaan, maupun penghargaan agar mereka tetap termotivasi mengharumkan nama daerah di kancah provinsi maupun nasional. (san/ach)