Hukum & Kriminal

Puluhan Istri di Pasuruan Gugat Cerai, Poligami Siri Jadi Pemicu Utama

Kota Pasuruan, Swaralin.id –  Gelombang gugatan cerai menggema di Kota Pasuruan sepanjang 2025. Di balik angka ribuan perkara yang masuk ke Pengadilan Agama (PA) Kota Pasuruan, terselip kisah pilu puluhan perempuan yang memilih mengakhiri pernikahan setelah dimadu tanpa izin—kebanyakan lewat jalan sunyi bernama nikah siri.

Ketua PA Kota Pasuruan, A. Zuhri, mencatat sepanjang Januari hingga Desember 2025, lembaganya menangani 1.183 perkara perceraian, baik cerai talak maupun cerai gugat. Dari jumlah tersebut, 48 perkara secara khusus dipicu oleh praktik poligami yang dilakukan suami tanpa persetujuan istri pertama.

“Mayoritas yang menggugat adalah istri. Pada awal gugatan, alasan sering kali tidak diungkapkan secara detail. Namun, dalam proses persidangan, terkuak bahwa penyebab utamanya adalah suami menikah lagi,” kata Zuhri, Jum’at (9/1/2026)

Menurut Zuhri, sebagian besar praktik poligami itu dilakukan secara siri, tanpa pencatatan resmi negara. Jalan yang diam-diam ini, kata dia, justru melahirkan persoalan panjang, terutama bagi anak-anak yang lahir dari pernikahan tersebut.

“Anak hasil nikah siri hanya memiliki hubungan hukum dengan ibu dan keluarga ibu. Ketika menyangkut administrasi pendidikan, layanan kesehatan, hingga hak-hak keperdataan lain, mereka berada dalam posisi rentan,” ujarnya.

Zuhri menjelaskan, pernikahan siri juga menyulitkan upaya isbat nikah. Selama suami masih memiliki istri sah, isbat tidak dapat dilakukan. Bahkan jika isbat dilakukan secara tersembunyi dan kemudian dikabulkan, istri sah masih memiliki hak hukum untuk mengajukan pembatalan putusan ke pengadilan agama.

“Dampak paling krusial memang pada anak. Mereka rentan secara psikologis, hukum, dan sosial. Dalam situasi tertentu, anak bisa kehilangan perlindungan penuh dari kedua orang tuanya,” tutur Zuhri.

Fenomena ini, kata Zuhri, menjadi pengingat bahwa poligami yang dijalankan tanpa prosedur hukum bukan sekadar urusan rumah tangga, melainkan persoalan sosial yang meninggalkan luka panjang terutama bagi perempuan dan anak-anak yang kerap menjadi pihak paling sunyi menanggung akibatnya. (San/Ach) 

Admin

Recent Posts

Raperda Pajak dan Retribusi Dibahas, Ini Jawaban Bupati Pasuruan atas Kritik Fraksi

Pasuruan, Swaralin.id – Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo menjawab sejumlah kritik dan masukan fraksi-fraksi DPRD Kabupaten…

21 jam ago

Perkuat Toleransi dan Kerukunan, Kapolres Pasuruan Kota Jalin Sinergi dengan Pengurus FKUB

Kota Pasuruan, Swaralin.id — Dalam upaya mempererat komunikasi dan memperkuat sinergitas lintas agama, Kapolres Pasuruan…

1 hari ago

Mediasi Kebisingan Sound System di Kejapanan Memanas, Warga Teriakkan “Pindah Saja!”

Pasuruan, Swaralin.id - Mediasi pengaduan kebisingan sound system di Balai Desa Kejapanan, Kecamatan Gempol, Kabupaten…

5 hari ago

Wakil Ketua I DPRD Pasuruan Muhammad Zaini, Dorong Anak Muda Jadi Pelaku Perubahan di era Inovasi Digitalisasi

Pasuruan, Swaralin.id -  Peringatan Hari Sumpah Pemuda 2026 menjadi momentum untuk mempertegas peran generasi muda…

5 hari ago

DPRD Pasuruan Bahas Perubahan Pajak Daerah, PBB-P2 Diusulkan Progresif hingga 0,2 Persen

Pasuruan, Swaralin.id - DPRD Kabupaten Pasuruan mulai membahas perubahan regulasi pajak dan retribusi daerah yang…

6 hari ago

Lupa Cabut Kunci, Motor Pelajar SMA di Pasuruan Digondol Maling, Aksi Dua Pelaku Terekam CCTV

Pasuruan, Swaralin.id - Kelengahan sesaat menjadi celah bagi pelaku kejahatan. Sepeda motor milik seorang pelajar…

6 hari ago